Minggu, 28 Mei 2023

MENGENAL PRASEJARAH INDONESIA

 

MENGENAL PRASEJARAH

A.    Mengenal Arkeologi

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuna" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.

Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture). Karena bergantung pada benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi (Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).

 

B.     Istilah Pra Sejarah, Pra Aksara dan Nirleka.

Pra-sejarah adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di saat catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Tidak jauh berbeda dengan istilah praaksara yang berasal dari gabungan kata, yaitu pra dan aksara. Pra artinya sebelum dan aksara berarti tulisan. Dengan demikian, yang dimaksud masa praaksara adalah masa sebelum manusia mengenal bentuk tulisan. Masa pra-sejarah dan pra-aksara disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan.

Masa pra-aksara disebut juga dengan masa pra-sejarah, yaitu suatu masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Adapun masa sesudah manusia mengenal tulisan disebut juga dengan masa aksara atau masa sejarah. Mengenai istilah, terdapat pendapat bahwa istilah pra-aksara sebenarnya lebih tepat karena pra-aksara berarti sebelum ada tulisan. Berbeda dengan pra sejarah yang berarti sebelum ada sejarah. Meski manusia belum mengenal tulisan, tidak berarti manusia tidak memiliki sejarah dan kebudayaan. Seperti diungkapkan Colin Renfrew, zaman pra-sejarah dapat dikatakan permulaan terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di saat kehidupan manusia di Bumi yang belum mengenal tulisan.

INDONESIA DAN ZAMANNYA

A.    Pembentukan Daratan di Indonesia

Untuk mempelajari kchidupan di Indonesia sebelum kchadiran manusia, kita terlebih dabulu meninjau tentang tarikh bumi dan awal kehidupan menurut geologi. Menurut ilmu falaq, yaitu ilmu yang mempelajari binatang -binatang maka dunia ini berawal dari bola pas yang panas dan berputar pada porosnya sendiri. Karena perputaran terus menerus maka gas tadi menjadi semakin padat dan kemudian terjadilah kulit bumi. Berbagai macam teori tentang terbentuknya bumi yang bisa kita pelajari seperti misalnya teori Nebula, teori Bintang Kembar, teori Big Bang dan sebagainya.

Menunut ilmu geologi, yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi, prasejarah kehidupan di burni dibagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

1.      Archaeikum, jaman tertua, berlangsung kira-kira 35og juta masih sangat panas sehingga dapat dipastikan pada masa ini tidak ada kehidupan sama sekali.

2.      Palaeozoikum, zaman hidup tua atau zaman primer. Zaman ini berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan kondisi bumi yang masib labil. iklim berubah-ubah dan curah hujan masih tinggi. Pada masa ini sudah mulai ada kehidupan di bumi meskipun terbatas pada makhluk hidup bersel satu (mikroorganisme), binatang-binatang kecil yang tidak bertulang tunggung, sampai pada jenis ikan dan permulaan amfibi dan reptil. Selain itu terdapat juga makhluk hidup jenis tumbuh-tumbuhan seperti ganggang dan rerumputan.

3.      Mesozoikum, jaman Hidup pertengahan juga dinamakan dengan zaman sekunder zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta tahun pada zaman ini tubuh masih berubah-ubah. Pada masa ini terjadi revolusi besar pada makhluk hidup. Jumlah ikan amfibi dan reptil semakin banyak. Bangsa reptil tumbuh mencapai bentuk yang luar biasa besar. Hal ini dibuktikan dari Penemuan fosil dinosaurus maupun atlantosaurus. Makhluk hidup sejenis pun juga sudah mulai tampak. Selain disebut dengan zaman sekunder zaman ini juga disebut sebagai zaman reptil sebab pada masa ini sebagian besar dari fauna (hewan) terdiri atas reptil. 

4.      Neozoikum atau kenozoikum, zaman hidup baru. zaman ini berlangsung kira-kira 60 juta tahun lalu hingga saat ini. zaman kenozoikum atau Neozoikum dibagi menjadi zaman tersier dan zaman kuarter. Zaman tersier dibagi dalam kala paleosen (65 juta tahun lalu) kala eosen dalam kurung (55 juta tahun lalu) dan kala oligosen dalam kurung (35 juta tahun lalu). Sementara zaman kuarter dibagi kedalam kala miosen (25 juta tahun lalu) sama kala pliosen (5 juta tahun lalu) kala Pleistosen (1,8 juta tahun lalu) dan kala Holosen (10.000 tahun lalu) pada zaman tersier binatang binatang menyusui mulai tampak seperti primata misalnya kera, sedangkan binatang reptil raksasa mulai lenyap zaman kuarter merupakan zaman dimana mulai muncul manusia purba.

KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA ZAMAN PRASEJARAH

A.    Jenis-jenis Manusia Praaksara

Menurut pakar anthropologi ragawi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta yaitu Prof. Dr. Teuku Jacob, yang dinamakan manusia prasejarah atau manusia fosil adalah manusia yang telah memfosil (membatu). Meskipun masih memiliki kemiripan dengan binatang, namun yang menjadi ciri pokok untuk dapat dikatakan manusia adalah ia berdiri tegak dan memiliki volume otak yang besar. Penelitian tentang manusia prasejarah sebenarnya menjadi kajian anthropologi ragawi (khususnya palaeoanthropologi). Di Indonesia fosil manusia prasejarah ditemukan di Jawa yang memiliki arti penting karena berasal dari segala zaman atau lapisan pleistosen. Jenis-jenis manusia prasejarah yang ditemukan di Indonesia antara lain

1.      Meganthropus

Meganthropus (mega:besar, antropo: manusia) atau manusia raksasa merupakan jenis manusia prasejarah paling primitif. Fosil dari jenis ini ditemukan di Sangiran (Jawa Tengah) oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 dan 1941. Von Koeningswald menamakan fosil temuannya ini dengan sebutan mengathropus palaeojavanicus (raksasa dari Jawa). Fosil yang ditemukan adalah sebuah rahang bawah dan 3 buah gigi (1 gigi taring dan 2 gigi geraham) berasal dari lapisan pleistosen bawah (fauna Jetis).

2.      Pithecanthropus

Pithecanthropus merupakan jenis manusia praaksara yang jumlahnya paling banyak. Pada tahun 1890-1891 dalam penelitian di Trinil (Ngawi) seorang dokter tentara Belanda berkebangsaan Perancis Dr. Eugene Dubois menemukan rahang bawah, tempurung kepala, tulang paha, serta geraham atas dan bawah. Dr. Eugene Dubois menamakannya Pithecanthropus Erectus (manusia kera berdiri tegak) dengan volume otak kira-kira 900 cc serta memiliki tinggi badan kurang lebih 165 cm.

3.      Homo

Manusia jenis homo merupakan manusia paling maju bila dibandingkan dengan manusia prasejarah sebelumnya. Penemuan manusia jenis ini diawali oleh Von Rietschotten yang berhasil menemukan sebuah tengkorak dan rangka di Tulung Agung (Jawa Timur). Setelah diteliti oleh Dr. Eugene Dubois fosil manusia jenis ini dinamai Homo Wajakensis. Sementara itu Ter Harr dan Openoorth dalam penelitian di Ngondong berhasil menemukan tengkoran dan tulang betis dari lapisan pleisosen atas yang kemudian diberi nama Homo Soloensis.

Homo merupakan jenis manusia yang paling maju dengan volume otak yang lebih besar dari jenis sebelumnya. Homo merupakan pendukung kebudayaan neolithikum yang berhasil dalam revolusi kehidupan. Von Koenigswald menyebutkan barangkali Homo Wajakensis termasuk jenis homo sapiens (manusia cerdas) karena telah mengenal teknik penguburan. Diperkirakan jenis ini merupakan nenek moyang dari ras Austroloid dan menurunkan penduduk asli Asutralia yang sekarang ini. 

B.     Jenis Kebudayaan

Manusia adalah makhluk yang dikarunia dengan akal dan pikiran sehingga ia mampu mengembangkan benda-benda di sekitarnya sehingga berkembanglah teknologi manusia prasejarah. Teknologi adalah usaha-usaha manusia dengan berbagai cara untuk mengubah keadaan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi dan budaya masyarakat prasejarah akan dijelaskan sebagai berikut:

1.      Kebudayaan Pacitan

Von Koenigswald dalam penelitian pada tahun 1935 di Pacitan tepatnya di desa Punung menemukan alat palaeolithik berupa kapak genggam atau kapak perimbas, serta alat serpih. Dilihat dari teknologinya alat ini dibuat dengan cara sederhana dan masih kasar. Alat ini ditemukan dipermukaan tanah sehingga sulit untuk menentukan siapa pendukung kebudayaan ini.

Meskipun ditemukan di atas permukaan tanah, namun setelah diteliti alat ini berasal dari lapisan pleistosen tengah. Kapak perimbas juga ditemukan di Sukabumi, Ciamis,Gombong, Bengkulu, Bali, Flores dan Timor. Pendukung kebudayaan ini diperkirakan manusia prasejarah dari jenis pithecanthropus erectus.

2.      Kebudayaan Ngandong

Von Koeningswald pada tahun 1934 dalam penelitian di Ngandong (Madiun) menemukan alat-alat tulang, tanduk dan alat batu yaitu kapak genggam. Karena ditemukan di Ngandong maka Von Koenigswald menamakannya kebudayaan Ngandong.

Termasuk kebudyaan Ngandong adalah alat-alat serpih yang ditemukan di Sangiran. Alat serpih ini berfungsi sebagai pisau, belati dan alat penusuk. Alat serpih juga ditemukan di Sulawesi Selatan, Flores dan Timor.

3.      Kebudayaan Sampung

Pada tahun 1928 sampai 1931 Van Stein Callenfels mengadakan penelitian di Gua Lawa di dekat Sampung (Ponorogo). Penelitian yang dilakukan oleh Van Stein Callenfels membuahkan hasil dengan ditemukannya alat-alat yang berupa alat tulang sehingga Van Stein Callenfels menyebutnya dengan kebudayaan Sampung Bone Culture. Alat-alat yang ditemukan antara lain jarum, pisau, mata panah dan sudip. Di tempat tersebut juga ditemukan tulang-tulang binatang yang dibor. Diperkirakan tulang-tulang tersebut dimanfaatkan sebagai barang perhiasan atau jimat.

CORAK KEHIDUPAN MANUSIA ZAMAN PRASEJARAH

Pada awalnya, masyarakat praaksara hidup secara berpindah-pindah (nomaden) dengan memanfaatkan alat-alat primitif yang masih sangat sederhana. Kemudian mereka berubah menjadi semi nomaden, dan berubah lagi menjadi menetap di suatu tempat. Berdasarkan corak kehidupannya, zaman praaksara dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

1.      Masa berburu dan meramu

Corak kehidupan manusia purba yang paling sederhana, yaitu pada masa berburu dan meramu. Pada periode awal munculnya peradaban manusia ini, kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang disediakan alam masih sangat terbatas. Umumnya, peralatan yang digunakan terbuat dari batu, kayu, atau tulang yang masih sederhana. Masa berburu dan meramu dibagi menjadi dua, yaitu masa berburu dan meramu tingkat awal dan masa berburu dan meramu tingkat lanjut.

Corak kehidupan manusia purba pada masa berburu dan meramu tingkat awal adalah nomaden (berpindah-pindah tempat). Mereka terus berpindah mencari daerah baru yang melimpah sumber daya alamnya. Sebab, sumber utama kehidupan mereka bergantung pada ketersediaan alam. Manusia yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal diperkirakan satu periode dengan Zaman Paleolitikum.

2.      Masa berburu dan meramu tingkat lanjut

Corak kehidupan manusia praaksara pada periode ini setingkat lebih tinggi daripada masyarakat berburu dan meramu tingkat awal. Hal ini terlihat dari teknik pembuatan alat, tempat tinggal, ataupun kesenian. Manusia yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut diperkirakan satu periode dengan Zaman Mesolitikum. Masyarakat berburu dan meramu tingkat lanjut telah menghasilkan berbagai kebudayaan, meskipun belum berkembang pesat. Beberapa contoh hasil kebudayaan dari periode ini adalah kapak perimbas, kapak sumatra, kapak penetak, anak panah, serta alat dari tulang dan tanduk rusa.

3.      Masa bercocok tanam

Cara hidup dengan berburu dan meramu mulai ditinggalkan oleh masyarakat prasejarah. Kemampuan berpikir mereka semakin terasah untuk menjawab tantangan alam. Hal ini ditandai dengan kemampuan mereka dalam menghasilkan makanan dengan bercocok tanam. Manusia yang hidup pada masa bercocok tanam diperkirakan satu periode dengan Zaman Neolitikum. Masa bercocok tanam sering disebut sebagai masa revolusi kebudayaan karena terjadi perubahan besar pada berbagai corak kehidupan masyarakat praaksara

4.      Masa perundagian

Kata perundagian diambil dari kata undagi, yang artinya seseorang yang memiliki keterampilan jenis usaha tertentu, seperti pembuatan gerabah, perhiasan, kayu, batu, dan logam. Masa perundagian merupakan periode akhir prasejarah atau yang lazim disebut Zaman Logam.

KESIMPULAN

Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Masa pra-sejarah dan pra-aksara disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan. Pada masa ini sudah mulai ada kehidupan di bumi meskipun terbatas pada makhluk hidup bersel satu (mikroorganisme), binatang-binatang kecil yang tidak bertulang tunggung, sampai pada jenis ikan dan permulaan amfibi dan reptil.

Di Indonesia fosil manusia prasejarah ditemukan di Jawa yang memiliki arti penting karena berasal dari segala zaman atau lapisan pleistosen. Sementara itu Ter Harr dan Openoorth dalam penelitian di Ngondong berhasil menemukan tengkoran dan tulang betis dari lapisan pleisosen atas yang kemudian diberi nama Homo Soloensis.

Jenis Kebudayaan Manusia adalah makhluk yang dikarunia dengan akal dan pikiran sehingga ia mampu mengembangkan benda-benda di sekitarnya sehingga berkembanglah teknologi manusia prasejarah. Berdasarkan corak kehidupannya, zaman praaksara dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

DAFTAR PUSTAKA

Al Anshori, J. (2010). Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan. Jakarta: Mitra Aksara Panaitan.

Arfan Diansyah, F. T. (2019). Prasejarah Indonesia. Yayasan Kita Menulis.

Kompas.com. (2021, Juni 01). Retrieved Desember 17, 2021, from Corak Kehidupan Manusia Zaman Prasejarah : https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/01/121845879/corak-kehidupan-manusia-zaman-prasejarah?page=all#:~:text=Begitu%20pula%20dengan%20corak%20kehidupan,primitif%20yang%20masih%20sangat%20sederhana.&text=Kemudian%20mereka%20berubah%20menjadi%20semi,men

Kusriyantinah, A. S. (1995). Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. Surabaya: Kendang Sari.

Noor, Y. (2016). Diktat Pra Sejarah Indonesia, 1.

Peter. (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia,. (n.d.).

Rahmadi, D. d. (2017). Mari Mengenal Masa Prasejarah. Sukoharjo: Sindunata.

Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius.

Sudrajat, M. P. (2012). Diktat Kuliah. Prasejarah Indonesia, 2.

Unknown. (2004). Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesi. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar