MENGENAL
PRASEJARAH
A. Mengenal Arkeologi
Arkeologi,
berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuna" dan logos,
"ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan
material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu
melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian
sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data
berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan
ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun
fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs
arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi)
arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Secara
khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik
pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah
(ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga
dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian
budaya bendawi modern (modern material culture). Karena bergantung pada
benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan
kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian
dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi
(Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan
sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).
B. Istilah Pra Sejarah, Pra Aksara dan
Nirleka.
Pra-sejarah
adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di saat catatan sejarah
yang tertulis belum tersedia. Tidak jauh berbeda dengan istilah praaksara yang
berasal dari gabungan kata, yaitu pra dan aksara. Pra artinya sebelum dan
aksara berarti tulisan. Dengan demikian, yang dimaksud masa praaksara adalah
masa sebelum manusia mengenal bentuk tulisan. Masa pra-sejarah dan pra-aksara
disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya
tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan.
Masa pra-aksara disebut juga dengan masa pra-sejarah, yaitu suatu masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Adapun masa sesudah manusia mengenal tulisan disebut juga dengan masa aksara atau masa sejarah. Mengenai istilah, terdapat pendapat bahwa istilah pra-aksara sebenarnya lebih tepat karena pra-aksara berarti sebelum ada tulisan. Berbeda dengan pra sejarah yang berarti sebelum ada sejarah. Meski manusia belum mengenal tulisan, tidak berarti manusia tidak memiliki sejarah dan kebudayaan. Seperti diungkapkan Colin Renfrew, zaman pra-sejarah dapat dikatakan permulaan terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di saat kehidupan manusia di Bumi yang belum mengenal tulisan.
INDONESIA DAN ZAMANNYA
A.
Pembentukan
Daratan di Indonesia
Untuk mempelajari
kchidupan di Indonesia sebelum kchadiran manusia, kita terlebih dabulu meninjau
tentang tarikh bumi dan awal kehidupan menurut geologi. Menurut ilmu falaq,
yaitu ilmu yang mempelajari binatang -binatang maka dunia ini berawal dari bola
pas yang panas dan berputar pada porosnya sendiri. Karena perputaran terus
menerus maka gas tadi menjadi semakin padat dan kemudian terjadilah kulit bumi.
Berbagai macam teori tentang terbentuknya bumi yang bisa kita pelajari seperti
misalnya teori Nebula, teori Bintang Kembar, teori Big Bang dan sebagainya.
Menunut ilmu geologi, yaitu ilmu yang
mempelajari kulit bumi, prasejarah kehidupan di burni dibagi dalam beberapa
tahapan sebagai berikut:
1. Archaeikum,
jaman tertua, berlangsung kira-kira 35og juta masih sangat panas sehingga dapat
dipastikan pada masa ini tidak ada kehidupan sama sekali.
2. Palaeozoikum,
zaman hidup tua atau zaman primer. Zaman ini berlangsung kira-kira 340 juta
tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan kondisi bumi yang masib labil. iklim
berubah-ubah dan curah hujan masih tinggi. Pada masa ini sudah mulai ada
kehidupan di bumi meskipun terbatas pada makhluk hidup bersel satu
(mikroorganisme), binatang-binatang kecil yang tidak bertulang tunggung, sampai
pada jenis ikan dan permulaan amfibi dan reptil. Selain itu terdapat juga
makhluk hidup jenis tumbuh-tumbuhan seperti ganggang dan rerumputan.
3. Mesozoikum,
jaman Hidup pertengahan juga dinamakan dengan zaman sekunder zaman ini
berlangsung kira-kira 140 juta tahun pada zaman ini tubuh masih berubah-ubah.
Pada masa ini terjadi revolusi besar pada makhluk hidup. Jumlah ikan amfibi dan
reptil semakin banyak. Bangsa reptil tumbuh mencapai bentuk yang luar biasa
besar. Hal ini dibuktikan dari Penemuan fosil dinosaurus maupun atlantosaurus.
Makhluk hidup sejenis pun juga sudah mulai tampak. Selain disebut dengan zaman
sekunder zaman ini juga disebut sebagai zaman reptil sebab pada masa ini
sebagian besar dari fauna (hewan) terdiri atas reptil.
4. Neozoikum atau kenozoikum, zaman hidup baru. zaman ini berlangsung kira-kira 60 juta tahun lalu hingga saat ini. zaman kenozoikum atau Neozoikum dibagi menjadi zaman tersier dan zaman kuarter. Zaman tersier dibagi dalam kala paleosen (65 juta tahun lalu) kala eosen dalam kurung (55 juta tahun lalu) dan kala oligosen dalam kurung (35 juta tahun lalu). Sementara zaman kuarter dibagi kedalam kala miosen (25 juta tahun lalu) sama kala pliosen (5 juta tahun lalu) kala Pleistosen (1,8 juta tahun lalu) dan kala Holosen (10.000 tahun lalu) pada zaman tersier binatang binatang menyusui mulai tampak seperti primata misalnya kera, sedangkan binatang reptil raksasa mulai lenyap zaman kuarter merupakan zaman dimana mulai muncul manusia purba.
KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA ZAMAN PRASEJARAH
A. Jenis-jenis Manusia Praaksara
Menurut pakar anthropologi ragawi
dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta yaitu Prof. Dr. Teuku Jacob, yang dinamakan
manusia prasejarah atau manusia fosil adalah manusia yang telah memfosil
(membatu). Meskipun masih memiliki kemiripan dengan binatang, namun yang
menjadi ciri pokok untuk dapat dikatakan manusia adalah ia berdiri tegak dan
memiliki volume otak yang besar. Penelitian tentang manusia prasejarah
sebenarnya menjadi kajian anthropologi ragawi (khususnya palaeoanthropologi).
Di Indonesia fosil manusia prasejarah ditemukan di Jawa yang memiliki arti
penting karena berasal dari segala zaman atau lapisan pleistosen. Jenis-jenis
manusia prasejarah yang ditemukan di Indonesia antara lain
1. Meganthropus
Meganthropus (mega:besar,
antropo: manusia) atau manusia raksasa merupakan jenis manusia prasejarah
paling primitif. Fosil dari jenis ini ditemukan di Sangiran (Jawa Tengah) oleh
Von Koenigswald pada tahun 1936 dan 1941. Von Koeningswald menamakan fosil
temuannya ini dengan sebutan mengathropus palaeojavanicus (raksasa dari Jawa).
Fosil yang ditemukan adalah sebuah rahang bawah dan 3 buah gigi (1 gigi taring
dan 2 gigi geraham) berasal dari lapisan pleistosen bawah (fauna Jetis).
2. Pithecanthropus
Pithecanthropus merupakan jenis
manusia praaksara yang jumlahnya paling banyak. Pada tahun 1890-1891 dalam
penelitian di Trinil (Ngawi) seorang dokter tentara Belanda berkebangsaan
Perancis Dr. Eugene Dubois menemukan rahang bawah, tempurung kepala, tulang
paha, serta geraham atas dan bawah. Dr. Eugene Dubois menamakannya
Pithecanthropus Erectus (manusia kera berdiri tegak) dengan volume otak
kira-kira 900 cc serta memiliki tinggi badan kurang lebih 165 cm.
3. Homo
Manusia jenis homo merupakan
manusia paling maju bila dibandingkan dengan manusia prasejarah sebelumnya.
Penemuan manusia jenis ini diawali oleh Von Rietschotten yang berhasil
menemukan sebuah tengkorak dan rangka di Tulung Agung (Jawa Timur). Setelah
diteliti oleh Dr. Eugene Dubois fosil manusia jenis ini dinamai Homo
Wajakensis. Sementara itu Ter Harr dan Openoorth dalam penelitian di Ngondong
berhasil menemukan tengkoran dan tulang betis dari lapisan pleisosen atas yang
kemudian diberi nama Homo Soloensis.
Homo merupakan jenis manusia yang paling maju dengan volume otak yang lebih besar dari jenis sebelumnya. Homo merupakan pendukung kebudayaan neolithikum yang berhasil dalam revolusi kehidupan. Von Koenigswald menyebutkan barangkali Homo Wajakensis termasuk jenis homo sapiens (manusia cerdas) karena telah mengenal teknik penguburan. Diperkirakan jenis ini merupakan nenek moyang dari ras Austroloid dan menurunkan penduduk asli Asutralia yang sekarang ini.
B. Jenis Kebudayaan
Manusia adalah makhluk yang
dikarunia dengan akal dan pikiran sehingga ia mampu mengembangkan benda-benda
di sekitarnya sehingga berkembanglah teknologi manusia prasejarah. Teknologi
adalah usaha-usaha manusia dengan berbagai cara untuk mengubah keadaan alam
sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi dan budaya
masyarakat prasejarah akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Kebudayaan Pacitan
Von Koenigswald dalam penelitian
pada tahun 1935 di Pacitan tepatnya di desa Punung menemukan alat palaeolithik
berupa kapak genggam atau kapak perimbas, serta alat serpih. Dilihat dari
teknologinya alat ini dibuat dengan cara sederhana dan masih kasar. Alat ini
ditemukan dipermukaan tanah sehingga sulit untuk menentukan siapa pendukung
kebudayaan ini.
Meskipun ditemukan di atas
permukaan tanah, namun setelah diteliti alat ini berasal dari lapisan
pleistosen tengah. Kapak perimbas juga ditemukan di Sukabumi, Ciamis,Gombong,
Bengkulu, Bali, Flores dan Timor. Pendukung kebudayaan ini diperkirakan manusia
prasejarah dari jenis pithecanthropus erectus.
2. Kebudayaan Ngandong
Von Koeningswald pada tahun 1934
dalam penelitian di Ngandong (Madiun) menemukan alat-alat tulang, tanduk dan
alat batu yaitu kapak genggam. Karena ditemukan di Ngandong maka Von
Koenigswald menamakannya kebudayaan Ngandong.
Termasuk kebudyaan Ngandong
adalah alat-alat serpih yang ditemukan di Sangiran. Alat serpih ini berfungsi
sebagai pisau, belati dan alat penusuk. Alat serpih juga ditemukan di Sulawesi
Selatan, Flores dan Timor.
3. Kebudayaan Sampung
Pada tahun 1928 sampai 1931 Van Stein Callenfels mengadakan penelitian di Gua Lawa di dekat Sampung (Ponorogo). Penelitian yang dilakukan oleh Van Stein Callenfels membuahkan hasil dengan ditemukannya alat-alat yang berupa alat tulang sehingga Van Stein Callenfels menyebutnya dengan kebudayaan Sampung Bone Culture. Alat-alat yang ditemukan antara lain jarum, pisau, mata panah dan sudip. Di tempat tersebut juga ditemukan tulang-tulang binatang yang dibor. Diperkirakan tulang-tulang tersebut dimanfaatkan sebagai barang perhiasan atau jimat.
Pada awalnya, masyarakat praaksara hidup secara
berpindah-pindah (nomaden) dengan memanfaatkan alat-alat primitif yang masih
sangat sederhana. Kemudian mereka berubah menjadi semi nomaden, dan berubah
lagi menjadi menetap di suatu tempat. Berdasarkan corak kehidupannya, zaman
praaksara dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu,
masa bercocok tanam, dan masa perundagian.
1. Masa berburu dan meramu
Corak kehidupan manusia purba yang
paling sederhana, yaitu pada masa berburu dan meramu. Pada periode awal
munculnya peradaban manusia ini, kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan bahan
yang disediakan alam masih sangat terbatas. Umumnya, peralatan yang digunakan
terbuat dari batu, kayu, atau tulang yang masih sederhana. Masa berburu dan
meramu dibagi menjadi dua, yaitu masa berburu dan meramu tingkat awal dan masa
berburu dan meramu tingkat lanjut.
Corak kehidupan manusia purba pada
masa berburu dan meramu tingkat awal adalah nomaden (berpindah-pindah tempat).
Mereka terus berpindah mencari daerah baru yang melimpah sumber daya alamnya.
Sebab, sumber utama kehidupan mereka bergantung pada ketersediaan alam. Manusia
yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal
diperkirakan satu periode dengan Zaman Paleolitikum.
2. Masa berburu dan meramu tingkat lanjut
Corak kehidupan manusia praaksara
pada periode ini setingkat lebih tinggi daripada masyarakat berburu dan meramu
tingkat awal. Hal ini terlihat dari teknik pembuatan alat, tempat tinggal,
ataupun kesenian. Manusia yang hidup pada zaman berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat lanjut diperkirakan satu periode dengan Zaman Mesolitikum.
Masyarakat
berburu dan meramu tingkat lanjut telah menghasilkan berbagai kebudayaan,
meskipun belum berkembang pesat. Beberapa contoh hasil kebudayaan dari periode
ini adalah kapak perimbas, kapak sumatra, kapak penetak, anak panah, serta alat
dari tulang dan tanduk rusa.
3. Masa bercocok tanam
Cara hidup dengan berburu dan meramu mulai ditinggalkan oleh
masyarakat prasejarah. Kemampuan berpikir mereka semakin terasah untuk menjawab
tantangan alam. Hal ini ditandai dengan kemampuan mereka dalam menghasilkan
makanan dengan bercocok tanam. Manusia yang hidup pada masa bercocok tanam
diperkirakan satu periode dengan Zaman Neolitikum. Masa bercocok tanam sering
disebut sebagai masa revolusi kebudayaan karena terjadi perubahan besar pada
berbagai corak kehidupan masyarakat praaksara
4. Masa perundagian
Kata perundagian diambil dari kata undagi, yang artinya seseorang yang memiliki keterampilan jenis usaha tertentu, seperti pembuatan gerabah, perhiasan, kayu, batu, dan logam. Masa perundagian merupakan periode akhir prasejarah atau yang lazim disebut Zaman Logam.
KESIMPULAN
Secara khusus, arkeologi
mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa
prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat
bukti-bukti tertulis). Masa pra-sejarah dan pra-aksara disebut juga dengan masa
nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada
tulisan. Pada masa ini sudah mulai ada kehidupan di bumi meskipun terbatas pada
makhluk hidup bersel satu (mikroorganisme), binatang-binatang kecil yang tidak
bertulang tunggung, sampai pada jenis ikan dan permulaan amfibi dan reptil.
Di Indonesia fosil manusia prasejarah
ditemukan di Jawa yang memiliki arti penting karena berasal dari segala zaman
atau lapisan pleistosen. Sementara itu Ter Harr dan Openoorth dalam penelitian
di Ngondong berhasil menemukan tengkoran dan tulang betis dari lapisan
pleisosen atas yang kemudian diberi nama Homo Soloensis.
Jenis Kebudayaan Manusia adalah makhluk yang dikarunia dengan akal dan pikiran sehingga ia mampu mengembangkan benda-benda di sekitarnya sehingga berkembanglah teknologi manusia prasejarah. Berdasarkan corak kehidupannya, zaman praaksara dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.
DAFTAR PUSTAKA
Al Anshori, J. (2010). Sejarah
Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan.
Jakarta: Mitra Aksara Panaitan.
Arfan Diansyah, F. T. (2019). Prasejarah
Indonesia. Yayasan Kita Menulis.
Kompas.com. (2021, Juni 01).
Retrieved Desember 17, 2021, from Corak Kehidupan Manusia Zaman Prasejarah :
https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/01/121845879/corak-kehidupan-manusia-zaman-prasejarah?page=all#:~:text=Begitu%20pula%20dengan%20corak%20kehidupan,primitif%20yang%20masih%20sangat%20sederhana.&text=Kemudian%20mereka%20berubah%20menjadi%20semi,men
Kusriyantinah, A. S. (1995). Sejarah
Nasional dan Sejarah Umum. Surabaya: Kendang Sari.
Noor, Y. (2016). Diktat Pra
Sejarah Indonesia, 1.
Peter. (2000). Prasejarah
Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia,. (n.d.).
Rahmadi, D. d. (2017). Mari
Mengenal Masa Prasejarah. Sukoharjo: Sindunata.
Soekmono, R. (1973). Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius.
Sudrajat, M. P. (2012). Diktat
Kuliah. Prasejarah Indonesia, 2.
Unknown. (2004). Religi Pada
Masyarakat Prasejarah di Indonesi. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata.

